Diberdayakan oleh Blogger.

Renaissance

facebook twitter instagram goodreads email
  • Beranda
  • Tentang
    • Blog
    • Penulis
  • Buku
    • Sastra
  • Sinema
    • Film
    • Serial TV
Jika berbicara mengenai sekumpulan kemungkinan, ada beberapa yang saya imani. Seorang kasmaran jatuh cinta pada pandangan pertama, seorang pembaca jatuh cinta pada paragraf pertama, dan seorang penonton jatuh cinta pada menit pertama. Yang belakangan ini menggambarkan saya dengan serial TV Netflix berjudul Stranger Things.


Stranger Things adalah sebuah serial TV bergenre horor, fiksi ilmiah, dan supernatural. Sampai saat ini, 2 season telah dirilis. The Duffer Brothers, pencipta Stranger Things, berencana akan mengakhiri serial TV ini pada season ke-4 atau 5. Season 1 Stranger Things terdiri dari 8 episode dirilis pada Juli 2016, sedangkan season 2 terdiri dari 9 episode dirilis pada Oktober 2017, dan saya baru menonton keduanya pada Februari 2018. 

Season 1

Segalanya dimulai dari langit berbintang di atas Laboratorium Nasional Hawkins, 6 November 1983. Keindahan tersebut sangat kontras dengan latar yang tiba-tiba berubah menyorot sebuah pintu di dalam laboratorium. Suara binatang malam pun tergantikan oleh suara lampu rusak, dobrakan pintu diikuti dengan suara alarm tanda bahaya, dan derap lari seorang ilmuwan. Ilmuwan itu berlari menyusuri lorong demi lorong menuju sebuah lift. Saat sang ilmuan telah memasuki lift, sebelum pintu lift menutup ilmuwan itu diserang oleh makhluk tak terlihat.


Poster Stranger Things season 1.

Secara garis besar, season 1 menceritakan seorang anak laki-laki bernama Will Byers yang terjebak dalam dimensi lain bernama The Upside Down. Saat itu Will baru saja pulang setelah bermain Dungeons and Dragons di rumah salah satu sahabatnya. Kejadian itu mengguncang hati ibunya, Joyce, hingga dia kalang kabut meminta bantuan Jim Hopper, temannya yang menjadi Kepala Polisi Hawkins. Will bisa memasuki The Upside Down karena portal dimensi itu telah dibuka oleh Eleven, seorang gadis berkemampuan psikokinetik yang menjadi objek eksperimen laboratorium Hawkins. Berkat kemampuan itu pula Eleven berhasil kabur dari sana. Dia lalu bertemu dengan Mike, Dustin, dan Lucas, ketiga sahabat Will. Petualanganpun di mulai.

Season 2

Langit berbintang kembali menyerbu indera penglihatan. Bukan lagi langit Hawkins, melainkan langit Pittsburgh, Pennsylvania, satu tahun kemudian, tepatnya 28 Oktober 1984. Sebuah geng dengan anggota bertopeng baru saja melakukan pembunuhan di sebuah rumah. Mereka berhasil kabur dari kejaran polisi berkat salah satu anggotanya yang memiliki kemampuan ‘bisa membuat orang lain melihat apapun yang dia inginkan’. Dia memanipulasi pandangan polisi yang mengejar gengnya. Dia adalah Eight. Ternyata Eleven bukan satu-satunya yang pernah menjadi objek eksperimen laboratorium Hawkins.

Meskipun fokus cerita masih sama seperti di season 1, jika dibandingkan, kasus di season 2 lebih besar. Makhluk dari dimensi lain alias The Upside Down mulai merongrong Hawkins dari dalam.

Poster Stranger Things season 2.

Penghargaan tertinggi yang sanggup saya berikan untuk The Duffer Brothers dan semua yang terlibat dalam proses produksi adalah apresiasi. Saya menyukai hampir seluruh elemen Stranger Things. Elemen pertama adalah kerumitan ceritanya yang sekilas terkesan sederhana. Kerumitan itu  baru bisa dipahami jika menyimak dialog tanpa cela. Sejauh ini, Stranger Things membuat saya berani memasukkan The Duffer Brothers ke dalam daftar sekian orang paling jenius dalam dunia sinema (Apa saya sudah mirip dengan pengagum Nolan yang memuja kejeniusan yang mereka klaim untuk idolanya itu?). The Duffer Brothers mampu memintal inspirasi, sains, mitologi, realitas, picisan, tragedi, dan humor menjadi untaian benang cerita. Dari untaian itu jalinan utuh cerita epic Stranger Things mereka rajut.

Pemilihan latar yang mengambil era 80-an adalah elemen kedua. Ini seperti angin sejuk untuk saya yang sedang kepanasan dalam kungkungan kehidupan abad ke-21. Penggambaran kehidupan era 80-an dalam Stranger Things cukup mendetail. Mulai dari bagaimana kehidupan pelajar sekolah menengahnya, seperti apa bentuk barang-barangnya, dan mode pemainnya. Tidak ketinggalan detail lagu dan film pada saat itu. Saya bisa merasakan atmosfer budaya era 80-an yang berusaha diwujudkan dengan detail-detail tersebut.

Elemen ketiga adalah pemain dan karakternya. Setiap pemain memiliki karakter yang kuat. Yang mana setiap karakter memiliki peran tersendiri untuk menghidupkan drama, tragedi, horor, dan humor dalam Stranger Things. Sebagai contoh adalah Dustin. Dia selalu bisa menghidupkan humor bahkan di saat paling tragis atau horor sekalipun.

Elemen keempat mengenai bentuk hubungan antar pemain yang terkesan sangat alami, tidak berlebihan, dan menyenangkan. Contohnya hubungan antara Mr. Clark (guru) dengan murid-muridnya; hubungan persahabatan antara Will, Mike, Dustin, dan Lucas; serta hubungan orang tua dengan anaknya. Dalam film ini orang tua dapat menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak-anaknya. Namun, ada satu pengecualian. Saya kurang menyukai hubungan percintaannya.

Selain keempat elemen utama di atas, tidak ketinggalan logo, poster, theme song, efek visual, juga termasuk elemen-elemen Stranger Things yang membuat saya rela menghabiskan 1 season dalam 1 hari. Toh saya pun rela menghabiskan beberapa bulan dalam penantian akan rilisnya season 3.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts

Penulis

About MeKlik di sini untuk lebih mengenal saya!

Arsip

  • ▼  2018 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Mei (2)
    • ▼  April (1)
      • Stranger Things: Lebih Baik Terlambat Daripada Tid...

Label

Buku Film Pameran Sastra Serial TV Sinema

Portofolio Berita

  • BEM FISIP Terpilih Telah Siapkan Gebrakan Baru
  • Hasil FnP Acuan Mahasiswa Tentukan Pilihan

Created with by BeautyTemplates