Diberdayakan oleh Blogger.

Renaissance

facebook twitter instagram goodreads email
  • Beranda
  • Tentang
    • Blog
    • Penulis
  • Buku
    • Sastra
  • Sinema
    • Film
    • Serial TV
Sumber: USA Today

Gangguan mental memang tidak pandang bulu. Bradley Coper berhasil mewujudkan pernyataan itu dalam aktingnya yang ciamik sebagai Jackson Maine di film A Star Is Born. Sebagai seorang mega bintang musik country, tidak menjadikan ia jauh dari gangguan mental. Malahan, sekat antara kewarasan dan gangguan mental sangat tipis. Sejarah merekam beberapa kasus seperti yang terjadi dengan Kurt Cobain dan Amy Winehouse.

Perseteruan Jackson Maine (Bradley Cooper) dengan diri sendiri bermula dengan adanya trauma masa kecil. Dari situ muncul kegelisahan, depresi, hingga kecanduan. Semua gejala dan bentuk gangguan mental itu diperankan oleh Bradley Cooper dengan porsi yang ‘pas’ dan tidak terkesan lebay. Seperti tidak mengharap belas kasihan, tapi dengan sendirinya bisa membuat penontonnya menitikkan air mata.

Sedari awal, film yang disutradarai oleh Cooper sendiri ini sudah menggambarkan bagaimana gangguan mental telah menyetir kehidupan Jackson. Sebelum menghibur para penggemarnya, Jackson meminum beberapa butir pil dan menenggak alkohol. Dan setelah konser berlalu, masih dalam keadaan mabuk ia meminta supirnya untuk mengantarkannya ke bar terdekat. Di bar itulah dia bertemu dengan Ally (Lady Gaga) yang sedang menjadi penyanyi di bar itu. Kelak, Ally lah yang akan menjadi istri Jackson dan sosok yang mendukungnya dalam masa pemulihan. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Potret Pram pada Dinding Memorabilia.


Pram, yang bernama lengkap Pramoedya Ananta Mastoer, pertama kali memperkenalkan dirinya kepada saya melalui tulisan-tulisannya. Kali ini Pram mempernalkan dirinya melalui kisah hidupnya yang terangkum dalam sebuah pameran bertajuk Namaku Pram. Pameran ini digelar di dia.lo.gue Artspace, Kemang sejak 17 April hingga 20 Mei mendatang. Penggagas pameran ini tidak lain adalah Titimangsa Foundation, yang juga menjadi penggagas pertunjukan teater Bunga Penutup Abad adaptasi dari roman Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pram.

Hal pertama yang tertangkap mata saya ketika memasuki dia.lo.gue adalah dinding kehidupan Pram. Di sini ditampilkan kehidupan Pram secara kronologis mulai dari ia lahir hingga tiada, lengkap dengan daftar karya yang ia tulis—termasuk yang telah hilang.

Dengan berbagai cara Pram mencerahkan saya. Setelah berhasil dengan tulisannya, kali ini giliran lembaran kertas semen dan batu baterai yang mengambil peran. Di tengah ruang pameran, dalam kotak kaca, berjejer lembaran kertas bekas semen, media Pram menulis saat ia menjadi tahanan politik sebab tidak adanya kertas. Di sisi lain ruang pameran, ditayangkan sebuah video. Dalam video tersebut ada yang membeberkan bahwa Pram memecah batu baterai dan mengambil serbuk hitamnya untuk dioles di pita mesin ketik yang kehabisan tinta. Saya, yang hidup dengan berbagai macam fasilitas memadai dan masih saja mudah mengeluh serta malas untuk belajar menulis ini, langsung tertampar.

Saya jadi teringat kutipan dari salah satu karya monumental Pram, Jejak Langkah. "Berbahagialah dia yang tak tahu sesuatu. Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam alam perbandingan." Sial betul. Pram selalu berhasil menyentuh pedalaman banyak orang melalui tulisannya. Tidak heran karena ia telah berhasil menyelami pedalamannya sendiri sebagai seorang manusia. Pram seakan ingin setelah menyaksikan pameran ini setiap pengunjung tersadar dan berani berdialog dengan dirinya sendiri, "Sekarang saya tahu di mana tempat saya. Dan saya ingin pindah ke tempat yang lebih baik, dengan usaha yang lebih keras."


Kamar kerja Pram.
Ketika melewati pintu menuju kamar kerja Pram, saya langsung merinding. Di atas meja terletak mesin ketik yang biasa dipergunakannya. Saya membayangkan bagaimana pada dini hari suara mesin ketik menggema dari sana, yang jika ditengok, sosok Pram dengan setelan kaos putih serta sarung favoritnya tengah sibuk mengetik dengan mulut tidak henti-hentinya mengepulkan asap kretek. 


Sketsa 'Bakar Sampah' oleh Rudy Dodo.
Setiap pagi dan sore Pram selalu membakar sampah, atau apapun
yang ia anggap sebagai sampah, Kadang, Pram juga membakar tulisan-tulisannya.
Di sebuah sudut ruang tengah terdapat cetakan sebagian karya Pram. Ada cetakan awal Anak Semua Bangsa oleh Hasta Mitra, sebelum hak ciptanya diserahkan kepada Lentera Dipantara. Ada pula beberapa cetakan karya Pram yang diterjemahkan ke bahasa lain.


Di halaman belakang dia.lo.gue terdapat kutipan dari berbagai karya Pram yang dicetak di atas kain putih dan digantungkan. Ketika angin berhembus, lembaran-lembaran kain itu melambai-lambai, berusaha mencapai pedalaman manusia yang membacanya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“Tan wěnang kinawruhan ng katrsnān, wěnang rinasan ri manah juga.”  
“Asmara tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya.”  
—Aroma Karsa, Dee Lestari


Ada seutas benang yang menghubungkan belasan karya Dewi “Dee” Lestari. Benang penghubung tersebut adalah dongeng. Benang ini belum terputus dan masih beruntaian hingga karya terbarunya, Aroma Karsa.
Sumber
Perbedaan Aroma Karsa dengan roman sejarah lainnya adalah saling berkelindannya penggalan sejarah periode Majapahit dengan kehidupan abad ke-21. Dee merangkai keduanya ke dalam alur yang cukup seru, sehingga amat sayang jika dilewatkan begitu saja. Kemudian, apa yang juga patut disayangkan adalah porsi cerita mengenai penggalan sejarah ini yang hanya secuil jika dibandingkan dengan tebalnya jumlah halaman. Dee memilih untuk lebih banyak mengulik tentang dunia olfaktori. 
x
Raras Prayagung telah akrab dengan dongeng melalui berbagai kisah yang dituturkan oleh neneknya, Janirah Prayagung, semenjak ia masih kecil. Salah satu dongeng yang paling menarik baginya adalah tentang Puspa Karsa, bunga yang konon mampu mengendalikan kehendak dan hanya dapat dideteksi melalui aromanya. Di penghabisan usianya, Janirah tidak hanya mewariskan perusahaan kosmetik bernama Kemara, tetapi juga obsesi untuk menemukan Puspa Karsa. Obsesi tersebut ditinggalkan dalam lembaran lontar kuno yang mendukung keberadaan Puspa Karsa.

Dalam mengurus Kemara, yang tumbuh menjadi perusahaan kosmetik nomor satu di Indonesia, Raras dibantu oleh anaknya yang memiliki memiliki daya penciuman jauh melampaui manusia pada umumnya, Tanaya Suma. Di kutub yang berlainan, seorang pemuda bernama Jati Wesi, yang memiliki kemampuan seperti Tanaya Suma, harus bergulat dengan kemampuan hidungnya itu dengan besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Dua kutub kehidupan itu akhirnya dipertemukan setelah Jati Wesi mengimitasi Puspa Ananta, produk parfum perusahaan Kemara.

Dengan adanya Jati Wesi dan Tanaya Suma—lengkap dengan kemampuan hidung keduanya, Raras kembali membentuk tim ekspedisi untuk mencari Puspa Karsa. Ia yakin Jati dan Suma mampu mendeteksi aroma Puspa Karsa dan membawa keberhasilan pada ekspedisi kali ini. Pada hari yang telah ditentukan, mereka memulai petualangan pencarian Puspa Karsa yang konon katanya berada di sebuah desa bernama Dwarapala, di Gunung Lawu sana.

Sesuatu yang Baru

Dengan mengungkap kemisteriusan dunia olfaktori dalam lembaran Aroma Karsa, Dee sekali lagi membuktikan bahwa ia selalu mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam setiap karyanya. Dee mengaku, kesulitan untuk menggambarkan ‘bagaimana hidung manusia bekerja’ menjadi tantangan seru baginya, yang mana masih sangat jarang penulis yang mau (atau mampu?) terjun ke dalam tantangan itu saking misteriusnya. Fakta inipun menjadi magnet tersendiri bagi pembaca, dibuktikan dengan respon pembaca di goodreads, atau dari resensi pembaca yang dapat ditemukan dari retweet Dee Lestari di akun twitternya.


Setidaknya Aroma Karsa 'cukup' untuk mengobati kekecewaan saya pada Intelegensi Embun Pagi (IEP). Meskipun 99 keping Supernova sejatinya berhasil membuat perasaan saya pecah berkeping-keping, ke-antiklimaks-an  IEP meretakkan bayangan cerita yang sudah susah payah saya bangun secara apik di dalam kepala sejak keping pertama. Jika dibandingkan, alur petualangan Jati Wesi dan Tanaya Suma di Dwarapala jauh lebih mulus daripada alur petualangan tokoh Intelegensi Embun Pagi di Bukit Jambul. Ini mengindikasikan semakin matangnya Dee Lestari dalam mengolah cerita. 


Spesifikasi buku
Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dewi "Dee" Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Harga: Rp125.000
Tebal: 724 halaman
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

Penulis

About MeKlik di sini untuk lebih mengenal saya!

Arsip

  • ▼  2018 (4)
    • ▼  Desember (1)
      • A Star Is Born: Kampanye Apik Kesehatan Mental
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)

Label

Buku Film Pameran Sastra Serial TV Sinema

Portofolio Berita

  • BEM FISIP Terpilih Telah Siapkan Gebrakan Baru
  • Hasil FnP Acuan Mahasiswa Tentukan Pilihan

Created with by BeautyTemplates